Rabu, 22 Februari 2012

Contoh Laporan KKL



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi ilmu pengetahuan yang semakin berkembang ditambah lagi dengan kualitas sumber daya manusia yang semakin maju dapat membantu memajukan kondisi perusahaan tetapi ada pula yang menyebabkan timbulnya perilaku negative. Hal ini dibuktikan dengan adanya kejahatan yang dilakukan manajer sampai kejahatan yang dilakukan di tingkat bawah. Sehingga perlu adanya tindakan pengendalian pengawasan di setiap aktivitas perusahaan baik di sektor dagang, manufaktur, atau jasa, karena demi satu tujuan perusahaan yakni memperoleh laba optimal dan maksimal (Jogiyanto, 1971:26).
Dalam perusahaan dagang, persediaan yang terutama terdiri dari persediaan barang dagangan. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur, terdiri atas persediaan bahan baku, persediaan barang bahan penolong, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (Mulyadi,1971:555).
Dalam hal ini, persediaan mendapat perhatian khusus dari pihak pemeriksa (akuntan) karena alasan sebagai berikut :
1.      Umumnya persediaan merupakan komponen yang mempunyai jumlah yang cukup besar dan bisa terjadi manipulasi serta tempat terjadinya kesalahan – kesalahan besar.
2.      Penentuan besarnya nilai persediaan secara langsung mempengaruhi harga pokok produksi, sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba tahun yang bersangkutan.
3.      Verifikasi kuantitas, kondisi dan nilai persediaan merupakan tugas yang lebih kompleks dan sulit dibandingkan dengan verifikasi sebagian besar elemen laporan keuangan lain.
4.      Seringkali persediaan ditempatkan diberbagai tempat yang terpisah sulit untuk diadakan pengawasan dan pengendalian.
5.      Jumlah persediaan akan menentukan atau mempengaruhi kelancaran efektifitas dan efisiensi proses produksi perusahaan.
Pengendalian serta pengawasan persediaan merupakan suatu fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik perusahaan banyak yang melibatkan investasi yang sangat besar, dalam posisi lain jika perusahaan memiliki modal terlalu banyak di dalam persediaan maka menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, tetapi mungkin bisa menambah keuntungan yang lebih. Sebaliknya jika perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, maka bisa timbul biaya – biaya dari terjadinya kekurangan bahan. (Zaki Baridwan,2000:5)
Melihat sistem pengolahan data persediaan dan sifat kerjanya yang sangat spesifik, sekiranya akan sulit untuk dapat dipenuhi jika perusahaan tidak menggunakan komputer dalam pengaplikasiannya. Kebutuhan akan sistem inilah yang mendorong diperkenalkannya lebih lanjut mengenai sistem informasi akuntansi persediaan.
Di dalam  perkembangan era globalisasi ini dan teknologi, sudah seharusnya cara manual dikonversi ke komputer. Harga perolehan 1 unit komputer beserta komponen pendukungnya bisa dikatakan saat ini kian murah dengan kemampuan untuk bekerja yang  semakin handal membuat pilihan bahwa sistem komputerisasi mampu mengoptimalkan seluruh kegiatan perusahaan. Dengan bantuan komputer masalah konsistensi dan validasi dokumen bisa ditingkatkan, juga  mendukung efisiensi kinerja perusahaan. Waktu yang tadinya digunakan untuk kegiatan pemrosesan data dapat digunakan untuk analisa dan perencanaan, karena sebagian tugas dapat dialihkan ke computer (Jogiyanto,1971:26)



Ada tiga dimensi analisis sistem informasi akuntansi persediaan yaitu :
1.                  Why
Alasan utama mengapa sistem informasi akuntansi diperlukan dan digunakan:
a.                   Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi
b.                  Menjaga harta milik perusahaan
c.                   Mendorong efisiensi proses produksi
d.                  Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
2.                  What
Apa yang diperlukan dalam mendorong pelaksanaan sistem informasi akuntansi seperti perangkat keras, perangkat lunak, database, prosedur, serta people.
3.                  How
Bagaimana penyusunan sistem informasi yang diselesaikan dengan perkembangan sistem informasi yang baru dengan menggunakan pendekatan sistem SLDC (Sistem Development Life Cycle)
            Atas dasar tersebut, yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PERSEDIAAN PADA CV. KARYA MANUNGGAL”

1.2.      Perumusan Masalah
Berdasar latar belakang diatas, manajemen sangat berharap dasar kebijakan yang ditempuh dengan melakukan efisiensi dengan mengadakan sistem komputerisasi di segala bidang persediaan, sehingga akan berpengaruh terhadap pengendalian dan pengawasan.
Untuk itu pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana sistem informasi akuntansi persediaan yang diterapkan oleh CV. Karya Manunggal?


1.3      Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.   Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana sistem akuntansi persediaan yang diterapkan dan untuk mengetahui pengaruh efisiensinya di CV, Karya Manunggal.
1.3.2.   Manfaat
Dapat mengerti secara detail mengenai penggunaan sistem informasi akuntansi persediaan serta bagaimana pengaruhnya terhadap efektifitas dan efisiensi kerja di CV. Karya Manunggal.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.      Pengertian Sistem Akuntansi
            Sebelum memahami apa yang dimaksud dengan sistem informasi akuntansi, perlu didefinisikan mengenai definisi sistem dan definisi informasi.
Pada dasarnya definisi sistem yaitu sekelompok unsur yang erat berhubungan antara satu dengan yang lain, yang memiliki fungsi bersama – sama untuk mencapai tujuan tertentu (Mulyadi,1971). Dari definisi tersebut,dapat dirinci lebih lanjut mengenai pengertian sistem secara umum, adalah sebagai berikut :
1.      Setiap sistem terdiri atas unsur – unsur
2.      Unsur – unsur tersebut merupakan bagian terpadu antara sistem yang bersangkutan
3.      Unsur – unsur tersebut bekerja secara bersama – sama untuk mencapai tujuan tertentu
4.      Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.
Data dapat diartikan kumpulan karakter, fakta atau jumlah – jumlah yang merupakan input dari suatu bagian informasi. Karena itu data belum bisa dijadikan suatu landasan atau bahan untuk pengambilan keputusan. Sehingga diperlukan proses pengolahan data untuk dapat memperoleh sebuah informasi.
Sedangkan informasi mengenai Gordon B. Davis, informasi adalah data yang diolah kedalam bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata atau berupa nilai yang dapat dipahami di dalam mengambil keputusan sekarang maupun dimasa yang akan datang. (Jogiyanto, 1996:24).
Pengertian lain dari informasi adalah informasi merupakan keluaran atau output dari suatu proses pengolahan data, output ini biasanya sudah tersusun dengan baik dan mempunyai arti bagi penerimanya bsehingga bisa digunakan untuk sebagai dasar dalam mengambil keputusan (Zaki baridwan,2000:3). Informasi yang baik adalah informasi yang bersifat :
1.      Tepat waktu, informasi yang dihasilkan  harus tepat waktu ketika diperlukan.
2.      Relevan atau bersangkut paut, informasi dikatakan relevan jika informasi yang diperoleh bersangkut paut dengan keputusan yang akan diambil.
3.      Dapat dipercaya atau reliable, informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan bisa dibuktikan atau diklasifikasikan kebenarannya.
Setelah diuraikan pengertian sistem dan informasi secara umum, berikut ini diuraikan pengertian sistem informasi akuntansi. Sistem informasi akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk dijadikan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan dan pengambilan keputusan oleh perusahaan (Mulyadi,1971:3).
Informasi tidak sama dengan data. Data adalah fakta angka bahkan sumber mentah, secara bersama – sama mereka memberi masukan bagi sistem informasi. Sebaliknya informasi terdiri dari data yang telah ditransformasi yang dibuat lebih bernilai melalui suatu proses. Sedangkan menurut Winarno sistem informasi akuntansi adalah komponen organisasi yang dirancang untuk mengolah data keuangan menjadi informasi atau laporan keuangan yang ditujukan pada pihak internal atau pihak eksternal perusahaan.
Untuk dapat menjamin berbagai data yang diperlukan untuk menghasilkan suatu informasi maka pihak manajemen memerlukan suatu aktivitas sistem informasi. Sistem informasi dirancang untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen perusahaan. Karena didalam perusahaan, kebutuhan akan sistem sangatlah bervariasi tidaklah mungkin jika hanya dipenuhi satu jenis informasi saja. Berbagai sistem informasi ini saling terkait sehingga harus saling mendukung dan saling bekerja sama sehingga membentuk suatu supra sistem atau sistem yang lebih besar yaitu sistem informasi manajemen. Dengan demikian, sebenarnya sistem informasi manajemen terdiri dari berbagai sub sistem. Sub sistem yang telah diterapkan sejumlah perusahaan adalah :
1.                  Sistem informasi pemasaran
2.                  Sistem informasi personalia
3.                  Sistem informasi aktiva
4.                  Sistem informasi akuntansi
5.                  Sistem otomatisasi kantor

 2.2.     Komponen utama Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Mulyadi komponen sistem informasi akuntansi terdiri dari 6 blok yaitu :
1.      Blok Masukan (input blok)
adalah data yang dimasukkan kedalam sistem informasi beserta metode dan media yang digunakan untuk menangkap dan memasukkan data tersebut ke dalam sistem. Masukan terdiri dari transaksi, permintaan, pertanyaan, perintah,dan pesan. Cara untuk memasukkan masukan ke dalam sistem dapat berupa tulisan tangan. Formulir kertas, pengenalan karakter fisik, dan papan ketik.
2.      Blok Model (model blok)
Blok model terdiri dari logico mathematics model yang mengolah masukan data yang disimpan, dengan berbagai macam cara, untuk memproduksi hasil yang dikehendaki atau keluaran. Logico mathematical models dapat mengkombinasi unsure – unsure data untuk menyediakan jawaban atas suatu pertanyaan, atau dapat meringkas atau menggabungkan data menjadi suatu laporan ringkas.
3.      Blok Keluaran (output block)
Produk suatu sistem informasi adalah keluaran yang berupa informasi yang bermutu dan dokumen untuk semua tingkat manajemen dan semua pemakai informasi baik intern maupun ekstern perusahaan.
4.      Blok teknologi (Teknology Block)
Teknologi ibarat mesin untuk menjalankan sistem informasi. Teknologi menangkap masukan, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan menyampaikan keluaran, serta mengendalikan seluruh sistem.
5.      Blok basis data ( data base block)
Basis data merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lain nya, tersimpan diperangkat keras komputer dan digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Secara fisik basis data dapat berupa media untuk menyimpan data seperti katu buku, pita magnetic, disk, chip, dll
6.      Blok pengendalian (Contoll Block)
Semua sistem dilindungi dari bencana dan ancaman seperti bencana alam, api kecurangan, kegagalan sistem, kesalahan dan penggelapan, penyadapan, ke tidak efisiensian.

2.3.      Sistem Informasi Akuntansi Dalam Perusahaan Manufaktur.
 Kegiatan pokok perusahaan manufaktur terdiri dari desain pengembangan produk, pengolahan bahan baku menjadi produk jadi, dan penjualan produk jadi kepada pembeli. Untuk menangani kegiatan pokok perusahaan  umumnya diranang sistem akuntansi yang terdiri dari :
1.      Sistem akuntansi pokok, merupakan organisasi formulir, catatan dan laporan. Sistem akuntansi dalam perusahaan manufaktur formulir atau dokumen, jurnal, buku besar, buku pembantu, dan laporan. Unsur akuntansi ini dirancang oleh manajemen untuk menyajikan keuangan untuk kepentingan pengelolaan perusahaan dan pertanggungjawaban kepada pihak luar perusahaan.
2.      Sistem akuntansi piutang, adalah sistem yang mencatat terjadinya piutang perusahaan dan berkurang nya piutang. Terjadinya piutang berasal dari transaksi penjulan kredit dan berkurangnya piutang berasal dari retur penjualan dan penerimaan kas dari piutang. Sistem akuntansi piutang terdiri dari prosedur sebagai berikut :
·                     Order penjualan
·                     Persetujuan kredit
·                     Pengiriman barang
·                     Penagihan
·                     Pencatatan bertambahnya piutang
·                     Distribusi penjualan
3.      Sistem akuntansi utang, dirancang untuk mencatat transaksi terjadinya utang. Terjadinya utang berasal dari transaksi pembelian kredit dan berkurangnya utang berasal dari transaksi retur pembelian dan pelunasan utang. Sistem akuntansi utang terdiri dari jaringan prosedur sebagai berikut :
·                     Prosedur permintaan pembelian
·                     Permintaan penawaran harga dan pemilihan pemasok
·                     Order pembelian 
·                     Penerimaan barang
·                     Pencatatan bertambahnya utang
·                     Prosedur distribusi pembelian.
4.      Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan dirancang untuk menagani transaksi penghitungan gaji dan upah karyawan. Sistem ini terdiri dari jaringan prosedur sebagai berikut:
·                     Pencatatan waktu hadir dan waktu kerja
·                     Pembuatan daftar gaji dan upah
·                     Pembayaran gaji dan upah
·                     Distribusi biaya gaji dan upah
5.      Sistem akuntansi biaya dirancang untuk menangani pengendalian produksi dan pengendalian biaya. Sistem ini terdiri dari jaringan prosedur sebagai berikut :
·                     Prosedur order produksi
·                     Prosedur pengumpulan cost production dan non produksi
6.      Sistem akuntansi kas dirancang untuk menangani transaksi penerimaan kas dan pengeluaran kas. Sistem ini terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :
·                     Prosedur penerimaan kas
·                     Prosedur pengeluaran kas
·                     Prosedur dana kas kecil
7.      Sitem akuntansi persediaan dirancang untuk mencatat transaksi yang bersangkutan dengan mutasi persediaan yang disimpan di gudang. Prosedur nya terdiri dari :
·                     Pencatatan harga pokok produk jadi
·                     Pencatatan harga pokok produk jual
·                     Pencatatan harga pokok yang dikembalikan oleh pembeli
·                     Pencatatan harga pokok persediaan produk dalam proses
·                     Pencatatan harga pokok produk yang dibeli
·                     Pencatatan harga pokok produk yang dikembalikan pada pemasok
·                     Permintaan dan pengeluaran barang
·                     Pencatatan harga poko yang dikembalikan digudang
·                     Penghitungan fisik persediaan.
8.      Sistem akuntansi aktiva tetap dirancang untuk menagani transaksi yang bersangkutan dengan mutasi aktiva tetap. Sistem initerdiri dari prosedur :
·                     Pengadaan aktiva tetap
·                     Penghentian pemakaian aktiva tetap
·                     Depresiasi aktiva tetap
·                     Penempatan aktiva tetap

2.4.      Pengertian Persediaan
            2.4.1.   Deskripsi Persediaan
Dalam perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari persediaan barang jadi, persediaan barang dalam proses, persediaan barang baku, dan persdiaan bahan penolong.
Persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang- barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode tertentu atau barang – barang yang masih dalam proses produksi (Mulyadi, 1971:165).
Persediaan bahan penolong itu sendiri mengandung arti persediaan barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak  merupakan bagian atau komponen barang jadi. Atau barang – barang yang bersifat pelengkap atau penolong.
            2.4.2.   Jenis dan Fungsi Persediaan
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitoring tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga. Atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimalisasi biaya total melalui penentuan apa, berapa dan kapan pesanan dilakukan..
Jenis – jenis persediaan yaitu :
1)      Persediaan bahan mentah, yaitu persediaan yang berwujud yang digunakan dalam proses produksi.
2)      Persediaan bahan penolong, yaitu persediaaan barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak merupakan komponen langsung barang jadi.
3)      Persediaan barang dalam proses yaitu persediaan yang merupakan keluaran dari tiap – tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk tetapi masih memerlukan proses lebih lanjut.
4)      Persediaan barang jadi yaitu persediaan barang yang telah selesai diolah dan siap untuk dijual.
Secara umum fungsi persediaan antara lain :
·         Decoupling yaitu memberikan kebebasan pada perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tanpa tergantung pihak supplier.
·         Economic lot sizing yaitu melalui penyimpanan, perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber daya yang dapat mengurangi biaya – biaya per unit.

2.4.3.   Metode pencatatan persediaan
Ada dua metode pencatatan persediaan barang yaitu :
1.      Metode pencatatan fisik
Penggunaan metode ini mengharuskan adanya perhitungan barang (stock opname) yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan. Hanya tamabahan persediaan dari pemebelian apa saja yang dicatat. Sedangkan mutasi berkurangnya persediaan karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan.
2.      Metode perpetual
Setiap jenis barang dibuatkan rekening sendiri – sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Setiap terjadi pembelian maupun pengeluaran maka harus dicatat kedalam buku. Sehingga mutu item barang tersebut senantiasa dapat diketahui. Penggunaan metode ini memudahkan membuat laporan keuangan sehingga tidak perlu lagi mengadakan perhitungan bahan terlebih dahulu.

2.5.      Konsep JIT ( Just In Time )
             JIT bertumpu pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen lainnya. JIT mengaharuskan ketiadaan atau sangat sedikit persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya saat pada dibutuhkan saja. Dalam kondisi ideal, perusahaan yang menerapkan sistem JIT hanya membeli bahan baku  yang cukup untuk satu hari operasi dalam rangka memenuhi kebutuhan hari itu, selain itu perusahaan tidak memiliki barang yang masih dalam proses pengolahan pada akhir hari kerja, dan semua barang \yang diselesaikan pada hari itu langsung segera dikirimkan kepada pelanggan sehingga tidak ada barang yang yang harus disimpan di gudang persediaan barang jadi (Henry Simamora,1996:17). Terdapat empat aspek fundamental JIT :
1.      Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi sebuah produk atau jas hal ini mencakup aktivitas atau sumber daya yang menjadi sasaran untuk pengurangan atau penghilangan ( misalnya persediaan yang disimpan di gudang dan barang dalam proses yang mesti ditangani dan dirumpuk berkali – kali sebelum menjadi barang jadi)/ aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi sebuah produk atau jasa disebut  bukan aktivitas nilai tambah.
2.      Komitmen tinggi terhadap mutu, melakukan secara benar segala sesuatunya sedari awal adalah esensial manakala tidak ada waktui untuk mengerjakan ulang. Prusahaan perlu memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi dalam semua aspek aktivitas perusahaan.
3.      Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi manajemennya. Perbaikan yang berkesinambungan adalah pengupayaan terus menerus nilai yang kian besar yang diberikan pada pelanggan.
4.      Penekanan pada penyederhanaan pan peningkatan visibilitas aktivitas nilai tambah, hal ini membantu untuk mengidentifikasi aktivitas tang tidak menambah nilai.
Tujuan JIT adalah menghasilkan sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kualitas yang diminta oleh pelanggan. Permintaan pelanggan akan memicu pembelian bahan baku dan penjadwalan proses produksi. Dalam lingkungan JIT, arus barang dikendalikan oleh pendekatan tarik untuk pengolahan produk.  Dalam JIT terdapat dua pendekatan yaitu
a.       Pendekatan tarik, bergerak dari tahap produksi akhir mmundur kebelakang ke tahap awal produksi, dengan kata lain tidak ada produksi sampai adanya transaksi penjualan atau pemakaian dalam produksi.
b.      Pendekatan dorong,  pendekatan dorong kerap kali digunakan dalam sistem pabrikasi konvensional, dalam sistem ini ketika sebuah workstation menyelesaikan jatah pengolahannya atas sebuah gugus produk, produk yang baru diselesaikan tersebut sebagian akan di dorong ke workstation berikutnya, terlepas dari apakah workstation itu siap atau tidak menerima masukan produk setengah jadi tersebut. Akibat yang muncul adalah penumpukan barang setengah jadi yang mungkin tidak akan terselesaikan selama beberapa hari atau minggu.
Persediaan bahan baku dan barang jadi yang tinggi mengakibatkan meningkatnya risiko kerusakan dan menambah biaya penyimpanan. Penetapan harga pun menjadi mahal karena terjadi kenaikan biaya.

2.6.      Implikasi JIT Terhadap Persediaan
            Pada dasarnya perusahaan memiliki persediaan yang berlebihan dikarenakan beberapa faktor yaitu :
a.                   Perusahaan mungkin meyakini bahwa mereka membuuhkan persediaan yang sangat besar dalam upaya menjaga jangan sampai kehabisan stok
b.                  Kesalahan mungkin bisa terjadi dalam proses produksi, sehingga memungkinkan untuk mengganti atau menambah pemakaian bahan baku tersebut.
c.                   Workstation kerja mungkin tidak terfkoordinasi sehingga mengakibatkan barang dalam proses ditumpuk di gudang menunggun tahap pengolahan lebih lanjut.

Melalui sistem JIT, faktor – faktor diatas dapat dieliminasi dengan hasil bahwa persediaan bukan lagi merupakan faktor utama dalam kegiatan perusahaan. Pemebelian JIT meminta para pemasok untuk mengirimkan suku cadang bahan baku tepat pada waktu akan dilakukan proses produksi. Hubungan pemasok sangatlah vital. Pasokan suku cadang harus dikaitkan dengan produksi, sedangkan produksinya sendiri terkait permintaan. JIT mengeksploitasi hubungan pemasok dengan menegosiasikan kontrak jangka panjang dengan beberapa supplier terpilih yang mampu memberikan pasokan bahan baku sesuai dengan jenis barang produksi perusahaan.

BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN PEMBAHASAN

3.1.      Sejarah Singkat Perusahaan
        CV. Karya Manunggal adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi sarung tangan golf dengan standar kualitas ekspor. Perusahaan ini berdiri tanggal 1 April 2009 dengan akta notaries No. 03 tahun 2009.

            3.1.1.   Lokasi dan Profil Perusahaan
CV. Karya Manunggal terletak di daerah Kabupaten Semarang, Bergas, Kecamatan Bergas. Perusahaan ini berdiri di sekitar pemukiman penduduk sehingga dapat memberikan lapangan pekerjaan untuk sumber daya manusia sekitar, mengingat industry ini sebagian aktivitas produksinya masih menggunakan dan memanfaatkan ketrampilan manusia. Total keseluruhan pekerja yang ada di industry ini mencapai 109 tenaga kerja mulai dari direktur hingga ke divisi produksi. Produk yang dihasilkan yakni sarung tangan untuk olah raga golf berkualitas ekspor dengan kapasitas produksi 2500 unit sehari (75.000 per bulan) dengan harga pokok 3,5 $ per pcs. Karya manunggal memiliki beberapa target pemasaran ekspor. Antara lain ke jepang. Sistem  produksi dan penjualan serta pemesanan bahan bakunya yakni pre order, dimana industry ini hanya melakukan aktivitas produksi bila ada pesanan. Namun, antara buyer dan perusahaan ini telah melakukan mou atau perjanjian, sehingga terjadi aktivitas produksi barang secara continue sesuai dengan permintaan buyer.
 Sarung tangan hasil produksi industry ini memiliki beberapa item yaitu :
§  Sarung tangan Golf (Golf Glove)
§  Sarung tangan batting (Batting Glove)
§  Sarung tangan kerja (Working Glove)
§  Sarung tangan dingin (Winter Glove)
§  Sarung tangan fashion (Drees Glove)
§  Sarung tangan anak (junior Glove)

Sedangkan mesin atau yang digunakan untuk proses produksi di CV. Karya Manunggal adalah sebagai berikut :
1.      Cutting Press Kecil, berfungsi untuk memotong bahan yang berukuran kecil dan tipis.
2.      Cutting Press Besar, berfungsi untuk memotong bahan yang berukuran besar dan tebal.
3.      Zig – zag, berfungsi untuk menjahit bahan dengan bentuk zig – zag
4.      Single needles, berfungsi untuk menjahit bahan dalam 1 garis jahitan
5.      Grinder, berfungsi untuk mengasah gunting, pisau, dll.

3.1.2.   Visi Misi dan Tujuan Perusahaan
            CV. Karya manunggal memiliki tujuan menciptakan lapangan pekerjaan dan  mengedepankan pengelolaan sumber daya masyarakat sekitar secara optimal, sehingga mampu menghasilkan barang sesuai kebutuhan masyarakat global dan mampu bersaing dengan produk lain serta selalu mengedepankan kualitas barang sesuai dengan standar kualitas ekspor.
 Visi CV. Karya Manunggal adalah membangun kemitraan bersama dalam menghasilkan satu produk yang dapat bersaing di pasaran global dengan menjaga kualitas produk yang dihasilkan.
Sedangkan Misi CV. Karya Manunggal yaitu :
1.                  Untuk pelanggan  Kami
CV. Karya Manunggal memberikan produk yang berkualitas sesuai dengan tuntutan standar ekspor dan pelayanan yang memuaskan.
2.                  Untuk Karyawan Kami
CV. Karya Manunggal memberikan kesempatan pada seluruh karyawan untuk dapat mengembangkan diri sesuai kemampuannya.
3.                  Untuk masyarakat sekitar
CV. Karya Manunggal memberikan kesempatan dan peluang kerja kepada masyarakat sekitar untuk bersamam – sama mengembangkan potensi.

seseorang yang memiliki perusahaan tersebut atau orang profesional yang ditunjuk oleh pemilik usaha untuk menjalankan dan memimpin perusahaan. Peranan seorang direktur yakni memimpin perusahaan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan perusahaan  khususnya pada CV. Karya Manunggal, mulai dari pengawasan kiagatan manajemen di CV. Karya Manunggal.
2.                  General Affair adalah seseorang yang Bertanggung jawab terhadap terpeliharanya dan terpenuhinya hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan gedung dan fasilitas-fasilitas produksi di CV. Karya Manunggal.
3.                  Umum, adalah divisi yang bertanggung jawab atas semua bagian atau fungsional – fungsional pada perusahaan.
4.                  Produksi adalah bagian yang dimana tugasnya melakukan proses produksi dari bahan baku menjadi barang setengah atau barang jadi.
5.                  Keuangan, adalah divisi yang bertugas mengolah arus perputaran uang yang terjadi di dalam perusahaan.
6.                  Gudang, adalah tempat yang digunakan manajemen perusahaan untuk menyimpan persediaan, baik persediaan bahan baku ataupun persediaan barang jadi.

3.2.      Pembahasan

Analisis 3 dimensi sistem informasi akuntansi persediaan
Sistem informasi Akuntansi pada CV. Karya Manunggal seperti pula dengan perusahaan lainnya memiliki 3 dimensi yaitu :
1)                  Why
Alasan utama mengapa sistem informasi akuntansi diperlukan dan digunakan adalah untuk :
a.                   Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi
b.                  Menjaga harta milik perusahaan
c.                   Mendorong efisiensi
d.                  Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
Setelah dihubungkan antara teori dengan kenyataan yang ada di CV. Karya Manunggal pada umumnya memiliki kesamaan. Dimana CV. Karya Manunggal menggunakan sistem informasi persediaan tersebut dengan baik guna untuk menjaga keseluruhan aktivitas manajemen yang berhubungan dengan produksi , baik disektor penyimpanan bahan baku di gudang, manajemen pengawasan produksi barang sampai ke pengambilan keputusan.
2)                  What
Apa yang diperlukan dalam mendorong pelaksanaan sistem informasi akuntansi seperti perangkat keras, perangkat lunak, database, prosedur, serta people.
a)      Perangkat keras adalah adalah suatu benda yang terdapat dari komputer yang dapat di lihat dan di sentuh dengan indera peraba kita. perangkat keras merupakan perangkat pembentuk dari komputer, sedangkan perangkat lunak dan lainnya merupakan komponen pendukung dari komputer.
b)      Perangkat lunak / Software adalah sekumpulan data elektronik yang disimpan dan diatur oleh komputer, data elektronik yang disimpan oleh komputer itu dapat berupa program atau instruksi yang akan menjalankan suatu perintah. Melalui sofware atau perangkat lunak inilah suatu komputer dapat menjalankan suatu perintah.
c)      Menurut Gordon C. Everest Database adalah koleksi atau kumpulan data yang mekanis, terbagi/shared, terdefinisi secara formal dan dikontrol terpusat pada organisasi perusahaan.
d)     Menurut Amin Widjaja (1995 : 83) “Prosedur adalah sekumpulan bagian yang saling berkaitan misalnya : orang, jaringan gudang yang harus dilayani dengan cara yang tertentu oleh sejumlah pabrik dan pada gilirannya akan mengirimkan pelanggan menurut proses tertentu”
e)      People adalah sekelompok orang yang mendukung pelaksanaan proses sistem itu sendiri dengan menggunakan kemampuan intelektualnya guna mendapat kan hasil data yang akurat.
Melihat dari komponen serta pengertian dari apa yang dibutuhkan untuk mendorong pelaksanaan sistem itu sendiri , CV karya manunggal telah melakukan hal yang sama dengan teori- teori tersebut. Secara umum CV. Karya Manunggal telah menggunakan seluruh komponen komponen tersebut sehingga mampu melaksanakan proses pengolahan persediaan bahan bakunya dengan menggunakan sistem  yang baik, tentunya dengan mengkomposisikan pengguanaan hardware, software, database persediaan dan prosedur serta kualitas SDM yang memadai.
3)                  How,
Bagaimana penggunaan dan penyusunan sistem informasi di CV Karya Manunggal hubungan nya dengan sistem informasi yang baru yang menggunakan pendekatan SLDC ( Sistem Life Development Cycle). System Development Lyfe Cycle (SDLC) adalah keseluruhan proses dalam membangun sistem melalui beberapa langkah. Ada beberapa model SDLC. Model yang cukup populer dan banyak digunakan adalah waterfall. Beberapa model lain SDLC misalnya fountain, spiral, rapid, prototyping, incremental, build & fix, dan synchronize & stabilize.
Dengan siklus SDLC, proses membangun sistem dibagi menjadi beberapa langkah dan pada sistem yang besar, masing-masing langkah dikerjakan oleh tim yang berbeda.
Dalam sebuah siklus SDLC, terdapat enam langkah. Jumlah langkah SDLC pada referensi lain mungkin berbeda, namun secara umum adalah sama. Langkah tersebut adalah
1. Analisis sistem, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan
2. Spesifikasi kebutuhan sistem, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek sistem
3. Perancangan sistem, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi
4. Pengembangan sistem, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan
5. Pengujian sistem, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat
6. Implementasi dan pemeliharaan sistem, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat
Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah keenam. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang, kadang-kadang bersama expert user, terutama dalam langkah spesifikasi kebutuhan dan perancangan sistem untuk memastikan bahwa langkah telah dikerjakan dengan benar dan sesuai harapan. Jika tidak maka langkah tersebut perlu diulangi lagi atau kembali ke langkah sebelumnya. Kaji ulang yang dimaksud adalah pengujian yang sifatnya quality control, sedangkan pengujian di langkah kelima bersifat quality assurance. Quality control dilakukan oleh personal internal tim untuk membangun kualitas, sedangkan quality assurance dilakukan oleh orang di luar tim untuk menguji kualitas sistem. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi. Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi sistem
Apabila dihubungkan antara teori dengan kenyataan di lapangan, CV. Karya Manunggal telah melakukan pembangunan sistem dengan terstruktur dan menggunakan langkah yang sesuai dengan kajian teori, SLDC sangat membantu kegiatan manajemen di CV. Karya Manunggal dalam melakukan pengawasan – pengawasan  intern hubungannya dengan  penggunaan persediaan bahan baku, maupun bahan jadi.
Konsep Just In Time

Seperti yang sudah dibahas di dalam bab sebelumnya, konsep just in time yakni bertumpu konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen lainnya. JIT mengaharuskan ketiadaan atau sangat sedikit persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya pada saat dibutuhkan saja (just in time). Pada perusahaan CV Karya Manunggal, sistem JIT digunakan dalam aktivitas penjualan barang jadi sehingga berpengaruh pada pembelian bahan baku yang akhirnya berdampak pada penjadwalan aktivitas produksi. Pada aktivitas penjualan barang jadi, perusahaan ini menerima pesanan pembuatan sarung tangan sesuai dengan kapasitas permintaan buyer, hal ini berdampak dengan aktivitas kapan akan dilaksanakan pembelian bahan baku. Untuk menghindari resiko penghentian aktivitas produksi, antara buyer dan seller telah melakukan sebuah perjanjian. Sehingga CV. Karya Manunggal bisa untuk melakukan aktivitas produksi secara continue.
BAB IV 
PENUTUP
4.1.            Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan mengenai sistem pengelolaan persediaan pada CV. Karya Manunggal yakni :
1.                  CV. Karya Manunggal menggunakan sistem nya untuk mengawasi dan mengelola seluruh aktivitas perusahaan termasuk persediaan.
2.                  Perangkat keras dan perangkat lunak digunakan CV. Karya Manunggal sebagai pendukung penggunaan semua sistemnya termasuk sistem informasi persediaan.
3.                  Konsep Just In Time diterapkan perusahaan ini guna untuk menanggulangi menumpuknya persediaan dalam gudang sehingga mengurangi biaya penumpukan bahan baku.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar